Monday, December 8, 2008

151. 32 th yl

32 th yl.

"Tiga puluh dua tahun yang lalu"
Tulisan ini sengaja aku tulis untuk mengenang masa2 hijrahku saat mengawali karier di Sulaweai Selatan. Tepatnya di dukuh Bonto2 desa Bontomarana kecamatan Ma'rang kabupaten Pangkep.
Pada ahir tahun 1976 selepas lulus dokter aku mengurus persaratan administrasi di Depkes (dulu di jalan prapatan daerah pasar senen Jakarta). Dengan mengisi sedikit tes tentang kenegaraan dan ke orde baruan aku diterima sebagai pegawai negeri sipil pusat. Hari itu juga dibuatkan SK dan SPJ untuk berangkat ketempat tugas. Mulanya aku memilih ke Bali tetapi isteriku tidak setuju dinas dipulau itu, sehingga kupilih Sulawesi Selatan sebagai tempat awal pengabdianku. Waktu itu aku dapat uang jalan sebesar 350 ribu rupiah, yang diserahkan langsung dari tas kulit bapak Rahmat mulya misena.
Sebulan kemudian Aku berangkat dari rumah di Salatiga jam 05.00 berdua dengan isteri (manten anyar ni ye) diantar kakak menuju bandara Kalibanteng Semarang. Jam 08.00 dengan pesawat GIA terbang menuju Surabaya. transit. lalu jam 13.00 menuju ujung pandang. Sampai disana hujan luebat. Dari udara daerah sekitar bandara Hasanuddin tampak banjir, empang2 terendam. Saya bingung2 juga soalnya masih buta tentang makassar dan tidak ada yang jemput padahal aku sudah kirim telgram ke kantor disana. Tiba2 aku ditawari oleh pak Suryanto kenalan baru seorang tionghwa yang menjemput anaknya yang kebetulan seperjalanan. Kemudian aku bersama isteri diantar kesebuah Guest house di jalan Bonto lempangan. Sewanya semalam 5.000 rupiah. Sebagai pembanding tiket GIA surabaya makassar kala itu 30.000 rupiah dan gaji pertama hanya 22.500.
Paginya saya menghadap Kakanwil dan oleh beliau aku dipindahkan ke Mess kanwil yang sangat nyaman. Saya dengar2 mess itu adalah rumah pribadi beliau. Disana enak disediakan mobil dan segala keperluan difasilitasi. Sekira seminggu kemudian aku ditempatkan di Kabupaten Pangkep untuk memulai kerja sebagai pegawai negeri di bidang kesehatan.
Demikian awal karirku yang tentu saja masa2 selanjutnya dipenuhi dengan suka duka selama bekerja dan sampai kini sudah menginjak tahun ke 32 .....
'3 dekade' sudah, usiaku ku abdikan pada negeri ini. Semoga sumbangsihku yang kecil ini tidak sia2.

8 comments:

Raf said...

Ah..alhamdullilah bisa dapet nomor urut satu sbg komentator

Di Pangkep banyak sekali tambak Pak ya...juga sawahnya bagus karena gunung2 kapur berdiri ditengah sawah yang hijau ... waduh..kapan Pak akan nostalgia kesana?

mas pram said...

boleh th pak upload foto 2 nya . Makasih dah berkunjung ke blog aq.

Indro Saswanto said...

@dik Raf. Betul sekali dik.. Wah rupanya adikku yang satu ini sudah jajah deso milang kori kemana2.
tapi ngomong2 kerasan banget nih di kaltim.
@ Mas Pram. Maaf fotonya jaman seniyen masih pakai film rol2an. tidak terdokumentasi dengan baik..
Sami2 makasih juga kunjungannya. pokoknya jangan bosen...

Mbah Suro said...

Sebagai Abdi Negara siap ditempatkan dimana saja, 32 Tahun adalah pengabdian yang panjang "Padamu negeri Aku mengabdi"

Ninis said...

Paling seneng baca sejarah yang penuh perjuangan hidup :)

Semoga perjuangan dan pengabdian Bapak mendapat balasan yang berlipat dari-Nya.. Amin..

Indro Saswanto said...

*Mbah,.. Siap !! tapi pun loyo mbah. 'Padamu istri kami berjanji.... jiwa raga kami...'
*Mbak Ninis.
Aamiiienn... semoga.
Jmbg lagi hujan terus... mataharinya males nongol.

Ki Ageng Similikithi said...

Kisah yang menarik. Saya membayangkan teman teman yang berangkat bertugas ke Puskesmas waktu itu mantap betul. Saya ada teman ko skap yang berangkat ke Ruteng. Ceritanya menarik kalau pas datang ke Yogya. Kami yang tinggal di kampus rasanya seperti menunggu godot, alias surat pengangkatan

Indro Saswanto said...

Ketika itu semangat masih membara, menyala2 dengan idealis begitu tinggi, tanpa memikirkan resiko, ingin mengabdi pada negeri, tanpa beban sama sekali... isinya cuma senang dihati.