Saturday, November 21, 2009

171. senyum itu

171. Senyum itu

senyum lebar tampak menghias wajah. senyum penuh makna. sulit ditebak apa maunya. dibuat2 dan nampak memuakkan. bagimana tidak. dalam ajang diskusi. senyum mestinya membawa makna isi hati. namun apa yang terjadi. senyum terlepas tiada arti. kemarahan dibungkus dengan senyum. kebencian di kemas dengan senyum. ironis. kepedihan pun diekspresikan dengan senyum. sungguh tragedi yang memilukan. persoalan besar yang semestinya dihadapi dengan penuh keseriusan di sajikan dengan senyum cengengessan. wajah dibungkuk2kan agar nampak sopan. hakekatnya menusuk dengan pedang bermata dua. sangat nggegirisi.
diplomasi senyum sungguh menyesatkan. sulit ditebak kemana arah tujuan. bak ombang ambing ditengah badai samodra. persis senyuman 'can i help you'. sungguh senyum yang memuakkan. senyum diumbar diobral mengaburkan makna. itu barangkali yang disebut senyum diplomasi. senyum komersiel. senyum politis. senyum topeng. senyum penuh kemunafikan.
begitu melencengkah makna sebuah senyum. di jaman milenium ini? dulu ada senyum kecut, senyum manis, senyum pahit, senyum bahagia, senyum tulus dari lubuk hati. sekarang merebak senyum diplomasi, senyum politis, senyum komersil, senyum clelekan, senyum topeng, senyum bau kemunafikan.....☺

Tuesday, August 25, 2009

170. mister gimbal

170. Mister Gimbal

Mulanya aku tidak tahu orang itu siapa dan akupun tidak tertarik sama sekali untuk mengenalnya. Cuman di akhir2 bulan lalu setiap aku buka tv selalu saja muncul manusia tua itu dengan dandanan gembel dan rambut gimbal serta penampilan dongo' seperti orang2 kurang waras. Amit2 nggilani. Bagiku dia saat itu tidak menarik sama sekali. Yang terbayang olehku baunya pasti menyengat bikin orang kehilangan selera makan, karenanya, setiap makluk itu muncul di tv, chanel pasti saya pindahkan. Rasanya sayang mata ini untuk melihatnya.
Suatu ketika anak pegawai saya yang masih kecil, usia 4 tahun, menyanyikan sebuah lagu. Lagu itu sangat lucu bagiku, tak gendhong2 kemana2.... where are you going oh my daarrling.....sambil joged2. Lalu oleh isteriku si kecil tadi ditanya 'nyanyi lagu apa itu?' 'Lagunya mbah Surip' jawab si anak tadi..
Saya tanya ke istriku mbah Surip? sopo to?
Alach...Itu lho yang sering muncul di tv..
Ooo yang gimbal tua itu ta? Walah2 walah..
Sejak saat itu aku selalu mengejar2 tampilannya di tv serta aku ingin mengenal lebih jauh tentang mbah Surip. Aku mulai tertarik dengan lagu2 nya. Apalagi setelah beliaunya mendadak meninggal dunia, saya jadi tambah ngefans dan mencari rekaman2 beliau, sampai2 aku menelusurinya di dunia maya dan pada achirnya saya menemukan lagu nya yang sederhana tapi kocak dengan judul 'enak enak keenakan'. Menurut saya lagu itu memang enak didengar apalagi untuk pengiring senam pagi setelah bangun tidur.
Bangun tidur terus mandi, tidak lupa senam pagi..kalo lupaaa ... ya tidur lagi.
Okey... slamat jalan mbah Surip.......
I love U full.

Thursday, June 4, 2009

169. Titel / gelar

Titel / gelar

Masyarakat kita hingga masa kini masih sangat mengagung2kan gelar. Hal ini sudah berlangsung sejak jaman kolonial, dimana seseorang yang menyandang gelar entah gelar kebangsawanan ataupun gelar akademik mereka sangat dihormati dan disanjung2. Tak heran... oleh karena itulah orang berlomba2 mencari gelar bahkan tak segan2 membelinya atau malahan lebih jauh lagi memalsukannya. Memang perbuatan2 tidak terpuji itu hanyalah merupakan ekses dari keadaan diatas namun ahir2 ini cukup merisaukan atau paling tidak membuat banyak orang memprihatinkannya. Bayangkan hanya dengan cara2 instan orang dengan mudahnya mendapatkan gelar (akademik) yang begitu bergengsi mulai S1 S2 bahkan S3 malahan kalau saja ada S7 pun mungkin akan bisa diperoleh dengan mudah.
Dengan semakin carut marutnya dunia per'gelar'an tadi gimana ya kalau yang namanya 'gelar' atau 'titel' itu dihapus saja dari bumi nusantara ini?.
Suatu hal yang mustahil. Tapi nampaknya kalau hal ini terlaksana maka orang tidak perlu lagi gagah2an dengan gelar dan pada ahirnya orang tidak akan mengejar2 gelar lagi dengan cara2 yang tidak terpuji dan tingkat pendidikan akan berjalan lebih baik lagi. Buktinya pendidikan setingkat SD SMP SMA yang notabene tanpa gelarpun berjalan baik sebagaimana mestinya.
Juga menjadi pertanyaan kita semua... utamanya saya... Mungkinkah persoalan2 gelar itu tadi merupakan gejala 'kenakalan' orang tua?, ( karena pelaku2nya rata2 adalah para orang tua yang sudah mapan serta mempunyai pekerjaan tetap)... dan dipenutup tulisan ini muncul pula uneg2 dalam hati saya.... Kalau saja dinegeri ini ada UUaG atau UU anti gelar maka..........

Saturday, May 30, 2009

168. Seninjong

Seninjong

Kata apa pula ini? Apa artinya dan berasal dari bahasa apa seninjong itu? Saya tidak tahu, tapi kata ini saya jumpai atau saya dapatkan dari almarhum ayah saya, sebagai judul dari catatan kecil beliau ketika melakukan perjalanan exodus diwaktu perang Jepang. Menurut hemat saya seninjong berarti catatan2 kecil dari kehidupan atau mungkin lebih populer dengan nama diary.
Ayah saya memang rajin membuat catatan ringan didalam perjalanan hidupnya.
mulai dari cuaca sampai kedatangan anak cucu kegiatan sehari2 terekam dengan baik. oleh beliau. Bahkan ditahun 1942, seperti yang telah saya utarakan diatas, beliau melakukan perjalanan exodus dari Palembang ke Purworejo pada sa'at serdadu Jepang mulai menjatuhkan bom pertamanya di kilang batavsche petroleum maskapey Sungeigerong Plaju Palembang. Bersama 12 temannya beliau dengan bersepeda onta pulang meninggalkan kilang minyak tsb menuju kampong halamannya di Purworejo Jawa tengah. Tentu dengan banyak liku2 peristiwa beliau jumpai selama sebulan perjalanan. Pernah suatu ketika sepedanya dirampas oleh patroli nippon dan berkilo2 harus berjalan kaki menuju kota untuk mencari sepedanya yang dirampas tadi dan ternyata oleh sang sorodadu Jepang ditinggal begitu saja diparit pinggir jalan. Sesampai dirumah tentu sudah klumus2 kurus kusut berdebu sampai2 keluarga tidak mengenali beliau dan disambut isak tangis seluruh keluarga. Sementara itu di Plaju rumah dinas dengan segala isi perabotannya ditinggal begitu saja dan entah sampai kini tidak tahu lagi beritanya.Suasana perang sangat mencekam suara bom dan peluru berdesingan, ayah dengan mlipir antar pemukiman beliau pulang meninggalkan kantor kerumah dinas yang telah kosong karena isteri dan anak2 sudah pulang mengungsi lebih dulu. Tanpa persiapan beliau mengambil baju secukupnya, rumah dikunci dan segera melakukan perjalanan panjang pulang ke jawa.
Pernah suatu ketika seninjong itu saya ketik ulang tetapi sayang saat itu tidak tersimpan dengan baik sehingga sekarang telah lenyap entah dimana. Waktu itu saya bikin rangkap dua yang satu untuk kakak saya dan satu saya simpan namun itupun menguap tidak terlacak lagi. Didalam hati saya masih berharap suatu ketika seninjong itu bisa ketemu lagi dan terbaca oleh cucu cicit beliau.
Kini setelah berpuluh tahun terasa sekali perlunya catatan2 kecil semacam itu bagi generasi penerus untuk mengetahui perjuangan hidup dari eyang buyut canggah wareng nya.

Wednesday, April 8, 2009

167. luegoo

luegoo


Setelah beberapa saat kita disesaki oleh gambar2 cakil dipinggir jalan dan teriakan2 hingar bingar serta janji2 yg menggiurkan ( baca memuakkan) kini udara terasa segar kembali, gambar yang benar2 tidak mengenakkan (baca nyepetake) mata sudah disingkirkan dan tidak terdengar lagi suara hiruk pikuk suara gedebag gedebug dangdut, kini suasana kota sudah benar2 segar dan melegakan dada. Tentu malam ini masih banyak mahluk2 yang berkasak kusuk mencari dukungan untuk coblosan (rasanya saya masih lebih mantab dg istilah ini daripada coreng moreng, prediksi saya besuk banyak juga pemilih yg mencoreng moreng surat suara, seperti "sianu oye" "ini yess" dsb... lhawong dipegangi bolpen sih).
Saya prediksi juga besuk pagi suasananya adem ayem tidak ada greget coblosan dan petugas tidak sesibuk pemilu2 yg lalu, kira2 jam 11 sudah mamring, antusiasme para pemilih tidak segreget masa lalu. Tapi ini semua ramalannya mbilung lho ya...yg lagi bingung dan tanpa data yg bisa dipertanggungkan, paling2 dari roso2 dan rasan2 yang tidak ada dasarnya.
Oke... silahkan saja yang sudah punya pilihan dimantabkan lagi pilihannya, yang belum ya tanya dulu niat ingsunnya dan mau kemana pilihannya, wis bebas2 sajalah.........
Selamat memilih yang mau milih, selamat golput yang mau nggolput semua itu hak anda yang penting jangan memaksa memilih dan jangan memaksa golput.
Sumonggo kerso...

Monday, April 6, 2009

166. jago petarung

jago petarung
karya: bilung

suatu ketika dipedesaan dipuncak gunung
semua penduduknya lagi bingung
tak terkecuali para pengunjung
mereka harus memilih jago petarung
namun adanya cuman ayam kampung
yang kelaparan mencari jagung
alkisah
dikala sang jago harus berkokok
didepan babon2 yg lenggak lenggok
diatas panggung diiring penari jorok
pantat bergoyang menyodok nyodok
ee penonton bersorban asyik merokok
menikmati pemandangan yang seronok
sambil bergoyang terbongkok bongkok
lupa etika lupa agama lupa jilbab lupa songkok
terus.. maju terus demi uang se gepok
ya allah
sedemikiankah moral penduduk sini
yang terbius pesta pora demokrasi
tidak mengindahkan adat dan etika lagi
atau jaman jadi jahiliyah kembali
ya.. yg maha agung
mereka klenger jadi linglung
tak tahu mana jago petarung
mana pencuri jagung
mungkinkah anda juga binglung?

Thursday, April 2, 2009

165. sekolah gratis

Biaya sekolah

Negara: hai rakyatku maukah kamu sekolah gratis?
Rakyat: tidak bayar sepeserpun?
N: betul gratis tis semua ditanggung negara.
R: kok enak
N: memang enak
R: jangan2 cuma untuk SD saja
N: o gak sampai S1S2S3 pun oke kalau otakmu mampu
R: wah senang dong kami tertarik
N: baik memang hakmu.. kamu semua berhak mendapat pendidikan gratis
R: iya dong
N: tapi tiba di kewajiban u lari semua
R: lho kok?
N: Gini deh. u mau sekolah sampai apa?
R: saya sih SD saja
N: oke, nanti begitu tamat u harus mau jadi carik di pedalaman irian
R: kalau gitu saya sampai SMP
N: boleh.. begitu selesai u jadi juru tulis di natuna
R: kalau sampai jadi dokter, insinyur, sarjana ekonomi dll?
N: Sampai doktorpun boleh tapi begitu selesai harus mau membangun negara didaerah2 tertinggal di nias, karimun jawa, sangihe talaud, pedalaman kalteng,irian, maluku, morotai, alor dll
R: weleh2 la kalo gitu tak jadi pengemis saja di jakarta.
N: lo gimana sih. u pada nuntut hak2mu sebanyak mungkin. tiba giliran memenuhi kewajiban lari semua. gimana negaramu mau maju
R: jaman dulu kan ada butsi, dokter inpres dll
N: iya, jaman itu kan negara cuma memberi subsidi, jadi ya cuma ikatan dinas sebentar saja. la kalo maunya gratis tis ya harus selamanya di daerah.
R: wah yo siap jadi kere
N: siapa bilang? u sudah jadi orang pintar kan? sumber daya alam melimpah, saingan tidak banyak, jangan dikira disana tidak ada orang kaya lo.
Rakyat: ???
Caleg: tolah toleh
Negara : hayo mau bilang apa? maunya enaknya saja.