Saturday, October 18, 2008

136. Tapi nyata

Kesurupan

Peristiwa aneh kedua yang pernah aku lihat dengan mata kepala sendiri ( bukan mengalami lho ya ..hanya melihat ) adalah kejadian kesurupan.
Peristiwa itu terjadi pada penghujung tahun 1978 ketika aku bertugas sebagai dokter Puskesmas di kecamatan Ma'rang Sulawesi Selatan sekitar 60km utara Makassar.
Suatu sore yang tenang sekira jam 17.00 aku dikejutkan oleh suara ribut2 di tetangga sebelah rumah. Setelah kutengok ternyata staffku yag lagi hamil tua 'kesurupan'.
Aku bersama isteriku (juga lagi hamil) bergegas kesana. Disana sudah banyak tetangga berkerumun. Aku lihat staffku tadi sedang berbicara dengan bahasa 'asing' yang tidak kumengerti dan memberontak si jadi2nya dengan pandangan kosong.
Sebagai dokter yang baru lulus dan belum banyak pengalaman aku anggap itu suatu gejala psikiatrik. Lalu aku lakukan pemeriksaan pengukuran tensi. Aku jumpai tensinya naik 170 / 90 mmHg nadi 92/mnt. napas tersengal2 mata melotot marah pandangan kosong. Tenaganya kuat sekali dipegang empat orang dengan mudah dia lepaskan. Mau aku suntik penenang tapi karena staffku tadi lagi hamil jadi aku batalkan. Setelah suaminya aku anamnesa, dan data sudah cukup jelas, aku putuskan diagnosanya 'kesurupan'.
Kebetulan pembantu saya seorang dukun mangkanya aku serahkan dia untuk mengobatinya. Dengan membaca mantera2 sambil memijat sela2 jari pederita dengan brambang ahirnya penderita berangsur tenang dan minta diberi lampu. Karena aku membawa senter jadi matanya aku sorot dengan senter. " Bukan itu .. aku minta lampu " dia membentak keras.. aku terkejut. Pembantuku yang dukun tadi lebih tanggap dia pulang mengambil lampu 'teplok' dirumahku. Dengan teplok itu sipenderita senang sekali, lampu dibuat main2an sampai puas. Tiba2 dia berteriak keras "Jangan dipintu, saya mau keluar ". Semua kaget, Keruan saja orang2 yang berdiri dipintu kamar berhamburan lari, takut kalau ikut kesurupan. Aku masih didalam kamar bersama sang dukun. Aku lihat penderita asyik bermain2 melihat2 telapak tangannya. Tidak berapa lama.. penderita ahirnya sadar, dia terbengong2 kenapa banyak orang dikamarnya, kenapa 'saya dan isteri' yang notabene atasannya ada disitu. Dengan malu tersipu karena rambut dan pakaiannya berantakan, kemudian setelah sejenak merapikan diri dia lalu bercerita kalau mulanya dirinya terasa ringan kosong dan seperti ada desiran angin mengenai kulitnya dan selanjutnya tidak ingat apa2. Sekarang badan terasa pegel cape disekujur tubuhnya.

Ditinjau kebelakang... memang lima hari sebelumnya dikompleks perumahan dinas yang bersatu dengan puskesmas itu mendapat kiriman jenazah korban KLL sebanyak dua orang dimana otaknya berhamburan.
Kedua korban tanpa kartu identitas sehingga dititipkan di puskesmas. Sebetulnya sudah aku tolak karena tidak ada fasilitas kamar jenazah, tetapi oleh pengurus desa jenazah diletakkan dipintu masuk lorong serambi puskesmas. Penerangan listrik tidak ada sehingga oleh staffku lorong itu cuma diberi lampu 'teplok' saja. Semalaman jenazah ditunggui oleh perangkat dari desa dan kecamatan.

Apakah ada hubungan antara kedua peristiwa itu......"Wallohu alam bisawab " hanya Allah yang tahu.

8 comments:

Mas Sito said...

Menarik sekali cerita ini, sebetulnya soal kesurupan itu biasa saja karena belakang ini sangat sering melihat di TV, cuma karena yang bercerita seorang dokter, makanya saya jadi yakin juga bahwa kesurupan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk staf puskesmaspun bisa kesurupan. Pertanyaan saya, kenapa yang kesurupan kok sebagian besar kaum perempuan, seperti yang yang sering kita lihat di TV.

Mbah Suro said...

Jaelangkung, ndolalak dan jaran kepang malah sengaja manggil roh supaya pemainnya bisa kesurupan. Dengan iringan musik yang berirama khusus dan berulang-ulang orang bisa kesurupan.
Kesurupan bisa terjadi juga karena jiwa orang sedang kosong (ngelamun berkepanjangan) atau sedang mengalami depresi berat.

Indro Saswanto said...

Mas Sito. Teori tetap teori tapi kebenarannya atau mengapa demikian tetap misteri. karena bukti2 hanya berdasar empirik dan statistik. memang wanita lebih rentan kesurupan yah karena teori dari mbah suro tadi.

Indro Saswanto said...

Mbah Soero, sewaktu kecil saya pernah pingin nonton jaelangkung di rumah mbah Kaji Asim ( H. Hasyim ). tapi hanya lihat geger alias punggung karena ketutup orang2 dewasa yg juga ingin lihat dan hari itu gagal rohnya tidak datang. mungkin takut karena ramainya penonton yg berjubel.
Jaran kepang juga pernah lihat di Jurutengah tapi saatg itu nalarku belum nyampe soale saya masih awal2 masuk SR.

Indro Saswanto said...
This comment has been removed by the author.
paromo suko said...

=> di sebelah selatan pasar baledono purworejo, ada yang kesurupan lamaaa banget, puluhan tahun, sampai sekarang
yang nyurup memang sesuatu yg luarbiasa tangguh: buhsemurup
=> di banyak media diberitakan kesururupan massal, berpuluh beratus orang ngamuk tanpa kendali ................... begitu rentankah kita?

Indro Saswanto said...

Kanjeng Romo. 'Surup' saat ini sudah merambah kemana2. Bahkan ada balonpati yang gagalpun kena 'surip' sampai 'sarap' lupa baju lupa celana.
Malah jaman londo dulu ada yang luebih hebat lagi, namanya 'sarip' tambakyoso sukaannya minum 'sirup'......

Indro Saswanto said...