Tuesday, October 14, 2008

134. Gak Biasanya

Gak biasanya

Namanya juga lebaran. H-1 tepat jam 7 pagi saya bersama anak2 dan mantan pacar keluar dari sarang di Jombang menuju Jogja. Jalan2 nampak sepi. Mungkin para pemudik sudah pada sampai tujuan dan saya termasuk sisa2 laskar pajang yang masih tertinggal.
Saya sebagai penumpang yang baik merangkap copilot duduk manis di depan kiri sedang anak saya pegang kendali dibelakang kemudi. Meski cewek tapi dia pilot yang piawai. Dari Jombang tepat jam 7 pagi dan sampai jogja jam 11 siang lebih. Sebuah perjalanan yang menyenangkan walau seluruh penumpang dalam keadaan puasa. Perjalanan sangat lancar bahkan relatif lebih cepat daripada hari2 biasa karena tidak singgah2 untuk mengisi perut.
Gak biasanya. Sewaktu kembali ke sarang pada H+3 begitu keluar rumah di daerah Monjali, jalan ringroad utara Jogja sudah terasa hingar bingar. Jam menunjuk angka 1 siang. Saya pikir biasalah suasana lebaran jalan2 dalam kota biasa padat, tetapi makin ketimur sampai Maguwo perjalanan malah merambat, mbok berek sudah macet. Untung anak saya mengambil jalur lambat sehingga lolos dari jebakan padatnya lampu merah mbogem. Begitu mendekat candi Prambanan crowded tidak tertolong lagi. Ketimur terus suasana seperti ini berulang2, tak ketinggalan Klaten. Kartosuro jangan ditanya. Kembali saya mencari jalan tikus untuk menghindari kemacetan. Mau masuk Purwosari Solo tanda2 crowded muncul lagi sehingga kami masuk jalur bis menghindari jalan dalam kota, jurug dan palur. Sebelum rel Purwosari belok kekiri jalur bus terus masuk bypass keluar sesudah Palur. Ternyata banyak juga kendaraan yang mengambil jalur itu, tak urung merambat juga tetapi tidak sampai macet. Masaran padat, sebelum masuk Sragen lampu merah berjubel ahirnya kembali saya masuk jalur bypass barat yang melingkar cukup jauh dan bergelombang tetapi sepi lancar. Dihutan mantingan padat merayap. Sesampai Ngawi kami menjalani ritual rutin singgah di rumah makan Accord 2. Semua menu naik 50% dari hari2 biasa. Minuman supir truk kegemaranku jadi 10 ribu pergelas. Sate kambing 20 rebu perporsi. Tapi gak apalah yang penting keluar puas karena lapar hilang dan rasa sesuai selera.
Menjelang magrib berangkat lagi, Sholat nanti dijamak dirumah saja toh paling 2 jam lagi dah nyampe. Jalan Ngawi Caruban lancar tersendat sedikit di Karangjati. Saya pikir kedepan lega jam 8 malam perkiraan sudah bisa leyeh2 dirumah. Namun ternyata mulai pertigaan Caruban sebelum lampu merah situasi tidak tertolong lagi. Kendaraan menjadi tiga sof dimana disponsori bus2 mereka menerobos tepi jalan yang berbatu. Akibatnya bisa diduga.... macet total tal. Rumah makannya bung Tarsan terlewati setelah memakan waktu kira2 dua jam. Situasi belum membaik, soda gembira di perut berontak mau keluar, dengan penuh perjuangan saya tahan2. Saya mulai gelisah, AC yang mestinya menambah kenikmatan justru sangat menyiksa saya. Ahirnya saya matikan. Anak saya sambil mengendalikan mobil malah menggoda " Pa, dibelakang ada botol aqua" katanya. "Wah, jangan deh, nanti dikiira extra jozz", balasku sambil pringisan. "Sabar ..... sebentar juga lancar" saya ngeyem eyemi diri sendiri. Sampai 3 jam ahirnya kami lepas dari ujung kemacetan di persimpangan rel kereta di Saradan. Segera pilot saya suruh menepi kekiri dan saya lompat menyusup kehutan. Buuzzzz.......luega rasanya. Jam sudah menunjuk pukul 21 lebih dan selanjutnya perjalanan lancar sampai rumah jam 22.40.
Gak Biasanya. Jogja Jombang hampir 10 jam, cukup melelahkan dan penuh perjuangan.

6 comments:

paromo suko said...

kemacetan punya pengaruh kuat thd kondisi fisik dan mental pengguna jalan, ya
(njenengan nulisnya kok jauh tengah malam to?)

Mas Sito said...

Ini namanya pemerataan kemacetan, H -1 di Jakarta/Bekasi sudah mulai sepi, tetapi yang diperjalanan Pantura dan selatan, berjuang keras melawan kemacetan, H+3 di Jakarta/Bekasi kemana mana Nyaman dan lancar, yang di udik merasakan karena semua kendaraan sudah pindah kedaerah dan saat ini di Jakarta/Bekasi sudah mulai padat lagi. ngiras ngirus uji kesabaran.

Ki Ageng Similikithi said...

Wah saya di Yogya berdua sama isteri. Ke Pekalongan lalu Ambarawa. Ketemu anak cucu baru H3. Untung nggak kepergok kemacetan.

Indro Saswanto said...

Idep2 ngalong Romo Begawan, Sudah digembleng sebulan jadi jam2 sekian perut brontak grobyagan nyari codhotan nyambi nulis.

Indro Saswanto said...

Benar sekali mas Sito. Ini yang namanya "sengsara membawa nikmat". Sorone gak ketulungan tapi nuikmatnya nuemen ".
Mudik hanya bisa ditandingi 'naik haji' ya sorone ya nikmatnya.

Indro Saswanto said...

Ki Ageng nyuwun sewu lepat. Wah tahu di Jogja saya sowan ngiras ngirus golek sawo Manilo.
Mohon maaf lahir batin Ki.
Wass.